Ringkasan Buku Sumbangan Borneo-Kalimantan Terhadap Sastra Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia


Sumbangan Borneo-Kalimantan Terhadap Sastra Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia

PERKEMBANGAN SASTRA KEBANGSAAN DI SARAWAK
Kegiatan-kegiatan kesusastraan yang diadakan di seluruh negeri Sarawak sejak tahun 1983 sangat besar dampaknya bagi perkembangan dan kemajuan sastra kebangsaan di negeri itu. Tahun 1983 disebut secara khusus karena dalam tahun itulah DBPCS mulai berperan aktif dalam merangsang perkembangan sastra kebangsaan di Sarawak dan kewujudannya mulai mendapat perhatian serta dianggap oleh pihak berwenang dan masyarakat di seluruh negeri itu. Faktor-faktor yang mendorong kasusastraan di negeri Sarawak adalah sebagai berikut:
a. Seminar/Pertemuan Penulis                               e. Anugerah/Hadiah
b. Bengkel Penulisan                                                f. Sumbangan para penulis Sarawak
c. Peraduan/Sayembara Penulisan                     g. Acara-acara lain yang berunsur seni
d. Penerbitan Buku Yang Berkala                            sastra
Kehadiran DBP Cawangan telah memberikan konstribusi besar dengan merancang dan melaksanakan pengembangan sastra yang lebih sistematik dan menyeluruh hingga DBP menjadi institusi sastra yang dikenali di negeri itu. Implikasinya, semua kegiatan sastra melibatkan DBP.
MENAKAR SUMBANGAN KALIMANTAN PADA PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA
Pada pertengahan dasawarsa 1970-an, ketika novel Upacara (1976) karya Korrie Layun Rampan muncul sebagai novel fenomenal yang mengangkat tradisi etnis Dayak, banyak pengamat sastra Indonesia memuji dan sepakat bahwa Upacara merupakan novel terbaik pada dasawarsa tersebut. Meskipun saat itu Korrie tinggal di Jakarta, Upacara tetap dianggap sebagai sumbangan Kalimantan Timur-daerah asal Korrie- yang sangat penting bagi sastra Indonesia. Novel ini dapat dianggoa sebagai salah satu sumber inspirasi bgi munculnya “Gerakan Kembali ke Timur”. Sebuah gerakan sastra yang mengajak kembali pada kekayaan estetika dan konten dunia timur sebagai dasar filosofi, konsep estetis, dan rujukan nilai-nilai ekstrinsik dalam pengembangan sastra Indonesia.
Di Kalimantan cukup banyak dan sering diadakan kegiatan-kegiatan sastra besar yang dapat ikut menggairahkan tradisi pemikiran dan penciptaan sastra Indonesia. Banyak juga sastrawan yang terlibat aktif dalam berbagai events sastra besar dan ikut menyumbangkan karya sastra serta gagasan-gagasan penting. Akan tetapi, setelah kesuksesan novel Upacara, Kalimantan belum banyak berbicara ataupun dibicarakan di kancah nasional. Hal ini disebabkan karena tradisi sastra yang masih terpusat dengan media publikasi dan politik sastra yang terpusat, serta tradisi kritik dan pengamatan sastra yang juga terpusat.
SASTRA MODERN DI KALIMANTAN BARAT: DAHULU DAN KINI
Karya sastra abad ke-19 termasuk kategori sastra sejarah karena merekam peristiwa penting yang pernah terjadi di Kalimantan Barat secara faktual. Menilik peranan sastra abad ke-19 ini dapat dikatakan pengarang memiliki kontribusi besar yang tidak bisa dinafikan dalam mencatat berbagai peristiwa sejarah dan konteks sosial-budaya masyarakat Kalimantan Barat praproklamasi. Pada era 50-an media cetak merupakan media massa yang sangat popular bagi masyarakat Indonesia, seperti Majalah Siasat dan Mimbar Indonesia.
Konteks kekinian perkembangan sastra modern di Kalimantan Barat masih memanfaatkan media massa sebagai publikasi. Namun, peran dunia saiber dan penerbitan pun sangat menetukan perkembangan sastra modern di Kalimantan Barat. Kemudahan dalam membuat halaman pribadi gratis dan membangun situs yang berbayar menyebabkan banyak penulis Kalimantan Barat yang mengaktualisasikan diri dengan fasilitas dunia maya tersebut.
MENJAGA SASTRA ANAK
Zaman berubah dengan cepat. Terasi yang menjadi senjata pamungkas Timun Mas seperti telah menenggelamkan Raksasa Buto Ijo bersama kisah-kisah pengantar tidur. Sehingga, yang perlu kita lakukan saat ini adalah mengambil peran masing-masing dalam upaya menyelamatkan sastra anak dari kehancuran. Para guru dapat melakukan tugasnya dengan cara misalnya memberikan tugas kepada siswa untuk mengumpulkan kisah, mitos, legenda, dongeng, petuah, dan nasihat dari orang tua supaya dapat terdokumentasi. Selanjutnya, dokumentasi tersebut dapat dibukukan.
KEBANGGAN SASTRA SEBAGAI KEBANGGAN DAERAH: Sumber Kreativitas Dan Inovasi Penciptaan
Kedaerahan atau lokalitas sebagai persoalan penting dalam dunia penciptaan sastra modern. Ada kegelisan yang dirasakan pengarang akibat situasi sosial-budaya yang telah menyeret mereka pada kondisi sastra yang dinilai kurang membumi: keterasingan historis dari akar tradisi sendiri. Namun, saat ini telah melampaui sekat-sekat geografis maupun kultural sehingga kita seakan-akan sedang berada di sebuah negeri tanpa batas.
Secara teoritis, karya-karya yang mengangkat unsur-unsur kedaerahan atau lokalitas lazim dikelompokkan ke dalam genre sastra berwarna lokal. Gambaran kedaerahan tidak saja terlibat dalam latar tempat cerita berlangsung atau sekadar mengutip beberapa kosa kata daerah, tetapi juga harus termanifestasikan dalam karakter tokoh dan gaya bahasa yang merupakan cerminan jiwa kebudayaan daerah bersangkutan.
Menurut Jamal T.Suryanata manakala lokalitas atau aspek-aspek kedaerahan itu dihubungkan dengan kedudukannya sebagai sumber kreativitas dan inovasi penciptaan karya-karya sastra, maka dapat dibagi menjadi tiga posisi atau kategori, yakni: Pertama, daerah sebagai lokalitas fisik (bentuk) karya sastra. Kedua, daerah sebagai lokalitas mental (isi) karya sastra. Ketiga, daerah sebagai lokalitas fisik-mental (bentuk dan isi) karya sastra. Keberpihakan terhadap salah satu dari ketiga kategori lokalitas sastra tersebut sangat bergantung pada kualitas diri masing-masing pengarang.
KALIMANTAN TIMUR DALAM SASTRA INDONESIA
Para penyair dan sastrawan awal Kalimantan Timur dapat dianggap sebagai pembuka jalan bagi para sastrawan yang datang kemudian. Puisi-puisi pada Angkatan Balai Pustaka kebanyakan menggunakan pola konvensional seperti masih menggunakan persajakan pantun dan syair dan bentuk prosa masih dengan pola hikayat dan riwayat yang subur pada zaman sastra Nusantara. Karya sastra di Kalimantan Timur lebih mementingkan amanat atau tema dan tendens dibandingkan pengucapan secara estetik.
Jika ditilik dari segi pengucapan dari generasi ke generasi, tampaknya kurang menunjukkan pembaharuan bentuk. Kebanyakan para sastrawan mengikuti mainstream sastra nasional yang secara kuat mengimbaskan pengaruhnya kepada para sastrawan lokal. Namun, secara tematik karya-karya para sastrawan ini menunjukkan penerobosan ke dalam pemikiran yang cukup mumpuni dan sangat berharga karena mencerminkan keuniversalan tema-tema kemanusiaan.
PANATURAN: SASTRA SUCI SUKU DAYAK NGAJU
Panaturan merupakan sastra lisan yang sakral dan hanya dituturkan atau dinyanyikan dalam acara ritual keagamaan dengan memakai bahasa ritual. Penutur atau pelantunnya para imam atau para rohaniwan Dayak yang disebut Basir atau Tukang Hanteran. Hans Scharer (1946, 1963) memaparkan bahwa nyanyian-nyanyian kudus menceritakan tentang peristiwa-peristiwa Ilahi pada waktu yang paling awal. Selain itu juga memperlihatkan bagaimana kahidupan suci harus dijalani sesuai dengan norma-norma dan aturan Ilahi.
Pada mulanya panaturan murni tradisi lisan yang dituturkan dalam ritual tertentu saja. Namun pada tahun 60-an, mereka mulai berfikir menulis dan menjadikan perkataan-perkataan para imam Dayak ketika melaksanakan ritual itu sebagai kumpulan ajaran Kaharingan. Untuk itu, para Basir senior didorong untuk menuliskan pengetahuan lisan mereka ke dalam bentuk tulisan. Pada tahun 1972, terbit semacam buku kumpulan sejarah Kaharingan dengan judul Kaharingan. Dengan dicetaknya Panaturan maka terjadi penyebarluasan kemelekhurufan religius.
PERAN PENTING ORGANISASI SASTRA MEMBANGUN KREATIVITAS DAN INOVASI SASTRA DI KALIMANTAN BARAT
Organisasi sastra di Kalimantan Barat, sudah ada sejak tahun 1980. Karya-karya mereka saat itu telah memberikan janji baru bagi perkembangan sastra di Kalimantan Barat. Perlu kita pahami bahwa nilai-nilai budaya bangsa merupakan bangunan bawah sadar atau fondasi dari moral masyarakat. Semangat kebangsaan juga merupakan sumber nilai dan moral yang mengilhami para pegiat sastra untuk berkarya. Keunikan bersastra merupakan asset berharga bagi masyarakat dan bangsa yang berbudaya. Oleh karena itu, untuk menjaga eksistensi dan motivasi para pegiat sastra, sudah waktunya ada organisasi sastra yang benar-benar mampu memberikan roh kehidupan sastra. Memberikan motivasi dan inovasi bagi para pegiat sastra. Dengan program kerja kreatif dan jelas, tentu dapat memberikan motivasi dan inovasi. Bahkan dapat meningkatkan wawasan sastrawan melalui diskusi, dialog sastra, dan kegiatan lainnya.
PERAN KUNCI SASTRA DALAM DUNIA PENDIDIKAN: SASTRA, PENDIDIKAN KARAKTER DAN UJIAN NASIONAL
Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang diuji-nasionalkan pada jenjang SD/MI,SMP/MTs, dan SMA/MA. Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib dalam UN. Dalam kisi-kisi UN, materi kesastraan juga diujikan seperti halnya materi kebahasaan. Kontribusi materi sastra terhadap nilai ujian nasional Bahasa Indonesia cukup besar. Oleh karena itu, pelajaran sastra tidak bisa diremehkan baik oleh siswa, guru, atau sekolah. Selain dapat memperluas wawasan peserta didik, sastra dapat memperhalus budi pekerti, serta kecintaan dan penghargaan terhadap karya budaya bangsa sendiri.
Apabila pelajran sastra di sekolah diberikan secara intensif dan berkelanjutan, maka ada dua manfaat yang diperoleh: Pertama, dapat meningkatkan nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran UN, dan kedua, dapat mengembangkan karakter peserta didik.
PERKEMBANGAN PENULISAN DAN CABARAN PENULIS-PENULIS LABUAN: SUATU ANALISIS
Kemajuan sebuah persatuan yang berteraskan penulisan atau dengan kata lain persatuan kebahasaan dan kasusastraan bergantung kepada kebijaksanaan dan komitmen pemimpin serta ahli-ahli jawatan kuasa yang diberi tanggung jawab memikulnya. Persatuan Penulis Wilayah Persekutuan Labuan (PERWILA) ditubuhkan kira-kira setahun setelah Pulau Labuan diisytiharkan sebagai Wilayah Persekutuan kedua pada 4 April 1984 selepas Kuala Lumpur (1972). Program yang dilaksanakan oleh PERWILA yang cukup besar adalah Dialog Teluk. Program ini bertujuan dapat merubah dan melonjakkan lagi semangat menulis dan pemikiran ahli-ahli PERWILA.
Labuan, khususnya PERWILA kini boleh berbangga hati karena dapat melahirkan beberapa kelumit penulis yang sudah lebih dulu muncul dengan karya-karya besar penulisan mereka, terutama Sdr Resmansyahn Indrat menjadikan bidang penulisan sebagai sepenuh masa. Beliau telah menulis beberapa buku seran di bawah penerbitan KarnaDia dan Novel Shaakur di bawah penerbitan PTS. Penulis-penulis lain muncul melalui sayembara menulis cerpen atau puisi kemudian diterbitkan secara berkumpulan dalam antologi cerpen dan puisi.
KEDUDUKAN SASTRA MODERN BANJAR DI TENGAH-TENGAH SASTRA INDONESIA
Sastra Banjar adalah sastra yang hidup dan berkembang di lingkungan etnis Banjar. Sebagai sastra etnik, sastra Banjar sangat sukar melampaui batas-batas wilayah lingkungannya. Walau demikian, sastra Banjar tetap hidup dan berkembang karena masyarakatnya tetap menghendaki keberadaannya. Sastra Banjar hidup di tengah-tengah kehidupan sastra Indonesia yang sangat mapan. Kedudukan bahasa Indonesia yang terlampau kuat di tengah-tengah bahasa daerah berdampak melemahnya kedudukan bahasa daerah. Melemahnya kedudukan bahasa daerah berarti juga melemahnya kedudukan sastra daerah.
Problema yang dihadapi sastra Banjar dari sisi pengarangnya, antara lain belum dikuasainya teknis penulisan karya sastra berbahasa Banjar oleh mayoritas sastrawan Banjar sendiri. Penulisan karya sastra berbahasa Banjar memang tidak dapat dilakukan dengan menerapkan teknik alih bahasa atau alih kode dengan cara menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Hal ini mengingat, struktur konsep berfikir dalam bahasa Indonesia sama sekali berbeda secara alamiah dengan struktur konsep berfikir dalam bahasa Banjar.
Sastra Banjar di masa depan akan menghadapi masa-masa kekurangan pembaca jika semakin hari semakin sedikit saja generasi penerus di Kalsel ini yang dapat mengerti bahasa Banjar. Padahal, sastra Banjar membutuhkan khalayak pembaca. Tanpa khalayak pembaca yang memadai, sastra Banjar tidak akan dapat dimaknai sebagaimana mestinya.
STRATEGI JITU MEMASYARAKATKAN BUKU
Kebiasaan membaca memiliki hubungan yang erat dan positif dengan perkembangan kognitif dan sosial anak. Di samping dapat memperkaya kehidupan siswa, membaca buku-buku sastra dapat berkontribusi penting dalam hal pendidikan. Mengingat besarnya pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap kebiasaan dan minat baca anak-anak, perlu difikirkan langkah-langkah efektif yang bisa menumbuhkan motivasi membaca sehingga anak memiliki kecintaan terhadap buku dan juga memiliki kegemaran membaca, seperti:
a. Orang tua sebagai guru pertama harus mengenalkan buku-buku bacaan mulai saat mereka
    belum sekolah
b.Guru dan sekolah harus melanjutkan dukungan dan bimbingan yang telah diberikan orangtua
   siswa dengan program literasi yang sistematis di sekolah.
c. Pemerintah harus berperan aktif dalam menjamin ketersediaan buku-buku bacaan di kalangan masyarakat Indonesia secara luas.
DARI RAKIS KE MAKA: SASTERA BRUNEI MENYUSUR JALUR BUANA
Sejarah persuratan Brunei bukanlah suatu tempalan kepada persuratan Nusantara. Syair Rakis karangan Pengiran Shahbandar Muhamad Salleh adalah karya agung negara. Syair yang mengandungi 175 bait tersebut telah dinukil sebagai adikarya yang tinggi mutunya. Pengiran Shahbandar adalah pemikir dan sastrawan yang digalati serta mempunyai kedudukan yang istimewa. Karyanya pada tahun 1845 tidak dilihat sebagai pelopor kasusastraan Melayu modern yang berjasa karena pemikirannya jauh melampaui modern daripada pemikiran sastrawan sezamannya.
Dalam meletakkan kasusastraan Brunei di peringkat global, terdapat perkembangan yang menarik apabila membicarakan soal kebangsawanan penulis dari sudut personal. Kehadiran para sastrawan Brunei dalam dunia kasusatraan memberi warna semangat, cerita, dan cita-cita bangsa yang sinergi. Sastra yang mereka tekuni menceritakan tentang masyarakat biasa yang hidup dalam situsi mandiri.


Ringkasan Buku Kasusastraan Indonesia di Masa Jepang

KASUSASTRAAN INDONESIA DI MASA JEPANG
Dengan pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun, jiwa kita sudah menjadi masak untuk revolusi. Menafikkan kesusastraan di zaman Jepang adalah menafikam suatu wajah kehidupan dalam perjalanannya membentuk sejarah. Buah kasusastraan adalah lukisan jiwa dan lukisan sekitar dipandang dari suatu kesadaran. Di zaman Jepang, kebebasan berfikir tidak ada. Jadi, sajak-sajak pada masa Jepang berisi cita-cita yang menimbulkan cinta tanah air bukan sajak-sajak yang mengenai diri sendiri.
Umar Ismail adalah satu-satunya penyair yang paling tegas suaranya, yakin, dan teguh dalam tujuan prang Asia Raya. Dia memegang prinsip I’art pour I’art, seni untuk seni yang ia kutip dari sebuah buku filsafat kesenian. I’art pour I’art baginya berarti satu kemewahan yang menandakan tidak ada keinsafan. Anggapan tersebut selalu ia pertahankan melalui karya-karyanya.
Suatu ketika pernah penyair-penyair dan pengarang-pengarang kita memuji dan memuja Jepang dari hati. Biarpun orang lain mencemooh mereka dan duduk di pinggir jalan hanya untuk melihat orang berbaris dengan tegap dan penuh semangat. Orang boleh mengejek lembaga yang bernama Pusat Kebudayaan Cap Nippon dimana segala hasil kesenian dipesan dan dibuat. Tapi tidak bisa disangkal bahwa hasil lembaga itu berguna juga waktu itu dan bagi kemudian hari untuk menyatukan semangat. Di sanalah seniman-seniman muda kita yang pekerjaannya sama dengan romusha jiwa dan pikiran, disiksa dan dimasak batinnya untuk revolusi yang akan datang.
Meskipun masih muda, Rosihan Anwar tidak termakan oleh propaganda Jepang. Dinamika perubahan sekitarnya tidak diikutinya. Hak tersebut disebabkan karena dinamika pikirannya yang mencari jalan sendiri. Perjalanan jiwanya terlihat jelas pada tiga buah sajakny, yaitu Kissah di Waktu Pagi, Lukisan dan Manusia Baru, dan Tentara Pembela Tanah Air.
Di zaman Jepang, orang tidak boleh merintih terang-terangan di surat kabar, majalah, dan rapat-rapat bagaimanapun seninya kesedihan itu. Tapi pujangga tetaplah pujangga, tidak mengindahkan ciptaannya dibaca atau tidak baginya menyanyi karena hendak menyanyi dan orang lain tidak usah mendengarnya. Di Tepi Kawah karya Bakti Siregar merupakan salah satu cerpen pelarian yang sangat indah. Diidealisir di situ kehidupan terpencil di lereng gunung penuh bahagia namun juga tidak lepas dari penderitaan dan kesedihan. Sajak-sajak dan cerita-cerita pelarian ini lambat laun semakin berkurang dan kemudian menghilang. Digantikan dengan sajak-sajak semangat pengobar keberanian untuk berperang dan mempersembahkan tenaga untuk menguatkan garis belakang perang.
Kumpulan sajak Kersik Berlada karya Bung Usman memperlihatkan pandangan hidup yang sinis, jiwa mengejek pahit nasib sendiri yang berserah. Sajak-sajak seperti ini hanya kelihatan pada Bung Usman. Mengejek kegilaan sekelilingnya, orang-orang berebut pangkat, nasib jelek orang Indonesia dan diri sendiri, ketololan orang-orang sekitar, dll.
Salah satu cara untuk melepaskan diri dari sensor Jepang ialah dengan jalan simbolik. Simbolik yang halus dan indah terdapat pada beberapa karangan karangan Maria Amin. Sindirian-sindiran diselipkannya dengan halus dalam perbandingan simbolik yang kadang-kadang jauh dari penjelmaan hidup masyarakat yang disindirnya.
Seorang penyair putri yang tetap memegang pribadinya ialah Nursjamsu. Sajak-sajaknya yang bersifat keseorangan, mengharukan karena kujujuran yang putih bersih. Selain itu, penyair yang paling individualis di masa Jepang adalah Chairil Anwar. Dia membawa udara segar bagi kasusastraan Indonesia dengan sajak-sajaknya yang berisi dan bentuknya revolusioner. Terlihat bahwa dalam sajak-sajak dan pandangan hidupnya terpengaruh oleh penyair-penyair Belanda Marsman, Ter Braak, Du Perron, beberapa penyair angkatan sesudah perang dunia pertama di Belanda.

Dalam kasusatraan Indonesia di zaman Jepang terdapat beberapa nama penyair, seperti Rosihan Anwar, Usman Ismail SMA, BH Lubis, Amal Hamzah, Chairil Anwar, Nursjamsu, Anas Ma’ruf, Maria Amin, Bung Usman, dan Idrus.

Ringkasan Buku Mozaik Sastra Indonesia


Mozaik Sastra Indonesia
Dimensi Sastra dari Pelbagai perspektif
A. Sastra dan Konteks
Gagasan sastra konstektual pertama kali dicetuskan oleh Arief Budiman. Tujuannya adalah untuk menyadarkan para penyair dan penulis, bahwa dia itu punya publik tertentu dalam mencipta. Yang paling penting adalah penyadaran akan suatu lingkungan di sekitarnya. Kalau manusia itu ingin menjadi total atau menjadi utuh dalam suatu konteks sosialnya, maka dia harus peka pada masalah sosialnya. Sastra kontekstual relative menurut ruang dan waktu.
Kelahiran Manikebu adalah akibat kegiatan kesenian Lekra yang radikal. Yang bertarung pada dasarnya adalah seni universal bourjuis lawan jenis universal proletar. Menurut Arief Budiman, jika waktu itu Lekra menang, saya piker filsafat seninya akan menjadi absolut semacam seni universal yang sekarang. Lekra akan berkiblat ke seni rakyat, bukan bourjuis.dulunya Arief Budiman dulunya penganut seni universal, tapi berubah ketika menyadari nilai yang dianut seni universal tidak demokratis. Jadi tak ada kesamaan antara konstektual tak ada dengan Lekra, sebab seni Lekra berorientasi pada rakyat dengan dominasi sentral partai (doktrin). Kalau seni konstektual justru ingin menghilangkan segala dominasi tersebut.
Menurut Agus Noor, Sejarah sastra kita lebih banyak dipengaruhi oleh pelbagai kepentingan ideologis, politis, dan sosiologis menjadi medan penafsiran atas beragam catatan yang menarik untuk terus menerus dibuka melalui perdebatan. Dalam konteks pertumbuhan cerpen Indonesia saat ini, perdebatan itu menjadi menarik karena melibatkan persoalan ‘senioritas’ yang tidak gampang untuk dilucuti hipokrisitasnya. Karenanya, seorang penulis sekarang ini tidak semata- mata berjuang untuk mempublikasikan karya, tetapi juga berusaha untuk mengatasi dominan pemaknaan yang corak dan pertumbuhannya terkadang banyak ditentukan oleh institusi sastra dan kritik sastra yang lebih berorientasi pada ‘monumen nama’.
Sejak rezim Soeharto berkuasa pada 1966, pemerintahnya berusaha dengan segala upaya untuk memisahkan berbagai aspek kehidupan yang bersentuhan dengan politik. Siapa yang menebar wacana politik akan berurusan dengan aparatur penguasa. Akibatnya, karya sastra menjauh dari kehidupan sosial politik. Sastra kita didominasi oleh urusan-urusan psikologis sosial seperti kesunyian eksistensi, jeritan kerinduan, kegelisahan ruhaniad dan intellectual game dan seterusnya.
B. Sastra dan Imajinasi
Imajinasi tak bisa dilepaskan dari karya sastra. Hal-hal yang sublime hanya dapat diungkap lewat imajinasi. Ungkapan-ungkapan itu bisa berupa simbol-simbol, Umar Yunus dalam Dalam Peristiwa ke Imajinasi menjelaskan, karya sastra harus bisa bebas dari keterikatan suatu peristiwa. Kemudian, dilanjutkan karya yang kurang menggunakan unsur imajinasi akan cenderung bersifat stereotype, sedangkan karya yang menggunakan imajinasi semaksimal mungkin akan mempunyai dunianya sendiri. Ini bisa diterjemahkan bahwa karya sastra membentuk realitas sendiri.
Realitas dalam karya sastra adalah hasil imajinasi yang diolah dan diciptakan kembali oleh sastrawan. Dan karya sastra relijius memang harus mempunyai dimensi transenden dan dimensi sosial. Karena itu tak tepat dikatakan bahwa karya sastra relijius tak menyentuh kenyataan sosial manusia. Tapi, karya sastra tak sepenuhnya melukiskan realitas. Melainkan realitas yang dilihat dari suatu imajinasi atau imajinasi yang didasarkan pada suatu realitas. Dengan begitu antara realitas dengan imajinasi sangat berkaitan erat dalam membangun karya sastra.
Antara sastra dan agama ada hubungan sangat relevan. Ini misalnya terlihat di dalam Al-Quran sendiri yang menggunakan bahasa sastra, juga pada karya-karya relijius. Dari sudut agama, sastra dipertanggungjawabkan kehadirannya untuk mengungkapkan hal-hal yang benar menurut agama dan melarang lahirnya karya sastra yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama.
Sastrawan dipandang sebagai kaum terpelajar sekaligus priyayi. Bukan karena profesi kesastrawaannya, tetapi karena keterpelajarannya. Citra itulah yang melekat pada sastrawan Balai Pustaka. Namun, memasuki masa Orde Baru citra sastrawan menjadi tak popular dan memburuk. Pemerintah lebih menekankan prestasi seseorang berdasarkan ukuran material dan segala yang bersifat fiscal. Sementara, nilai-nilai kejujuran, moralitas, dan hati nurani dicampakkan. Keadaan itu makin parah dengan dominasi ABRI yang dibiarkan secara leluasa mamasuki berbagai bidang kehidupan sosial, politik, dan kenegaraan.
c. Sastra dan Pluralisme
Menurut Arief Budiman, sastra dalam millennium ketiga akan terdesak oleh media elektronik. Dewasa ini memang daya tarik media sangat kuat. Apalagi minat baca masyarakat masih memprihatinkan. Sementara itu, jumlah penerbitan buku terbatas. Namun, kecenderungan semacam itu, akan segera berubah dan orang akan semakin meminati bacaan sastrawi. Ada nilai-nilai artistic tertentu yang hanya bisa diperoleh lewat buku sastra dan tidak mungkin diperoleh lewat film, sinetron, atau telenovela.
Menurut Jaffe dan Scott (1968), di dalam membaca karya sastra pembaca akan menemukan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut mereka, fiksi yang paling efektif adalah yang menafsirkan aspek-aspek kondisi manusia secara efisiendan jujur. Jadi, tema di dalam sebuah cerita haruslah ditanggapi secara serius, karena sastra yang baik mengetengahkan kebenaran mengenai sejumlah aspek eksistensi kehidupan manusia.
d. Mozaik Sastra Indonesia
Puisi adalah hasil dari proses kreatif penyair melalui penjelajahan empiris, estetis, dan analis. Ketiga unsur yang melengkapi kepenyairan itu merupakan bagian dari tugas penyair. Puisi teks baku yang penciptaannya selalu mengacu kepada apa yang ada. Ia bukan hanya mengaktualisasikan gagasan yang telah ditulis penyair terdahulu. Ia berpijak pada persoalan yang terus berkembang.
Puisi-puisi Chairil Anwar mempunyai hubungan erat dengan bahasa dan masyarakat Minangkabau. Pertama yang paling menonjol terlihat pada struktur sintaksis bahasa puisinya. Chairil Anwar memakai struktur sintaksis bahasa Indonesia yang tidak lazim, berupa pembalikan susunan kata. Kedua, ia memakai gaya bahasa hiperbol. Ketiga, imaji yang ditampilkan dengan semangat yang bergelora dan terkadang mendayu-dayu. Kedua imaji ini seolah berada pada dua kutub yang saling berlawanan. Kenyataan ini sekaligus memperkuat anggapan bahwa akar budaya Minagkabau masih kuat tertanam dalam diri Chairil Anwar.
Puisi mbeling sebagai wujud sastra pop nampaknya berbentuk sederhana, baik dari segi pengucapannya maupun tema yang dipilih. Secara pragmatis puisi semacam ini memang lebih mudah dipahami pembaca, bahkan mampu mengajak pembaca untuk berkomunikasi tentang apa saja melalui gelitikan-gelitikan penuh canda dan kelakar. Sastra pop lebih banyak merebut dimensi ruangtinimbang dimensi waktu, sehingga sastra pop mempunyai nafas yang pendek. Namun tidak menutup kemungkinan untuk digandrungi sepanjang waktu.
Cerpen-cerpen Danarto didasarkan atas wawasan estetik dan pandangan dunia yang sama, yaitu wawasan sastra transenden dan pandangan dunia dari alam pikiran mistisime Islam (tasawuf), akan tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup penting. Perbadaan-perbadaan itu ialah tekanan cerita, yang menyebabkan timbulnya pergesekan penokohan dan ancang-ancang cerita. Cerpen-cerpen dalan Godlob memberikan tekanan pada kerinduan mistis dan tokoh cerita kebanyakan bukanlah tokoh dunia sehari-hari.
Dalam dunia sastra, mozaik komunisme digambarkan secara estetis dalam cerpen maupun novel oleh pengarang-pengarang Indonesia. Sebagai documenter sosial, sebetulnya sastra juga dapat dijadikan bahan rujukan pendidikan sejarah. Namun tampaknya sosialisasi sejarah ideologi yang membahayakan kelangsungan persatuan dan kesatuan bangsa ini belum dilakukan dengan cara yang optimal, termasuk dalam pengajaran sastra. Akibatnya, masyarakat kurang kita kurang bisa mengetahui cara kerja komunis membidani anak-anak muda, khususnya yang frustasi untuk menjadi oposisi dan tampil beda bahkan terkesan radikal.
e. Sastra dan Saiber
Dunia saiber lahir sabagai dampak perkembangan teknologi. Sastra masuk ke dunia saiber –pada mulanya- untuk memanfaatkan media ini sebagai ruang alternatif sosialisasi karya dan pemikiran. Namun, pada gilirannya melahirkan suatu bentuk ekspresi tersendiri. Ada suatu sentakan kecil terjadi dalam ruang wacana medium puisi kita terkini dengan hadirnya budaya saiber yaitu teknologi internet. Lalu dari situ lahirlah terminology cukup mewah, sastra saiber, sebuah terminology yang masih bernuansa eksklusif dan inkonvensional dalam wacana sastra kita terkini dan telah mengundang sejumlah tanggapan atau sikap antusias maupun sinis dari kalangan pengamat maupun kritikus sastra.
Kebebasan menulis puisi di internet membuat para penulis puisi yang merasa gagal mempertaruhkan eksistensi kepenulisannya di media massa cetak melirik dan tergoda internet sebagai sebuah ruang pelatian bagi eksistensialisasi dirinya secara leluasa tanpa harus berhadapan dengan jarring birokrasi redaksional apapun. Dampak pelarian para penulis puisi itu membuat puisi saiber tidak luput dari sekadar menjadi tempat pembuangan dan mereka itu ikut serta merusak citra puisi saiber di mata public sastra saiber.
f. Sastra dan Kreativitas Pengarang.
Menurut kacamata strukturalis, karya sastra pada hakikatnya adalah karya yang baru bukan sesuatu yang diulang-ulang yang menampilkan sebuah dunia yang utuh melalui media pembangunan kata yang otonom, sesuai dengan hokum yang berlaku di dalamnya. Dengan demikian sebuah karya dapat memberi sesuatu kepada penikmatnya. Sastra adalah sari kehidupan yang telah dicerna dan kemudian dituangkan ke dalam bentuk yang indah yang sesuai dengan struktur karya itu sendiri.
Jendela-jendela karya Fira Basuki merupakan sebuah karya yang penuh pengharapan. Fira Basuki hadir dengan gaya berani dan menjanjikan. Oleh karena itu, rasanya sungguh pantas jika ia dijejerkan dengan nama-nama Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Oka Rusmini. Pasalnya bukan sekadar keberaniannya mengungkapkan hubungan perselingkuhan melainkan juga lantaran cara bertuturnya yang cerdas dan terkesan sangat bersahaja.
Yang membedakan pengarang dengan profesi adalah imajinasinya dalam memotret realitas, mendeskripsi sejarah dan mampu mengekspresikan realitas itu ke dalam estetika yang dibingkai sastra. Rendra tidak kuliah formal di jurusan pendidikan atau menyandang doktor pendidikan, namun apa yang disuarakan merupakan bahan pijak sivitas akademika dalam menegakkan obyektivitas, moral dan kejujuran yang sekarang ini mulai tereduksi dalam praktik pendidikan.
Puisi sebagai refleksi kreatifitas humaniora, berarti puisi merupakan seperangkat sikap dan perilaku moral terhadap sesamanya, sehingga manusia dapat bertindak manusiawi. Humaniora adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan membuat manusia semakin manusiawi atau lebih berbudaya. Puisi Taufik Ismail dalam Malu Aku Jadi Orang Indonesia (Majoi) adalah puisi-puisi yang mencerminkan/merefleksikan humaniora. Kehadiram kumpulan puisi Majoi ini telah menambah kekayaan dunia sastra Indonesia. Dengan puisi-puisi ini, Taufik mengajak kita untuk melihat dan merasakan apa yang terjadi di tanah air kita. Bagaimana harus memanusiakan dirinya, barulah memanusiakan orang lain.


Ringkasan Buku Sejarah Sastra Berspektif Gender

Sejarah Sastra Indonesia
Berspektif Gender
A. Perkembangan Fiksi Dan Isu Kesetaraan Gender Dalam Fiksi Indonesia
Istilah fiksi (fiction) dalam teori sastra mengacu pada jenis karya sastra yang unsur naratif (cerita)nya dominan. Fiksi dibedakan menjadi dua, yaitu cerita pendek (cerpen) dan novel. Perbedaan kedua jenis karya sastra tersebut secara sederhana dapat dilihat dari panjang cerita.
Ciri-ciri cerpen:
  •  Panjang cerita berkisar antara seribu sampai lima ribu kata
  • Plot hanya diarahkan pada peristiwa tunggal
  • Karakter tokoh langsung ditunjukkan
  • Bersifat compression(pemadatan), concentration (pemusatan), intensity (pendalaman).
  •  Mencapai keutuhan cerita secara eksklusi

Ciri-ciri novel:
  • Panjang cerita berkisar antara empat ribu atau lebih kata.
  • Bersifat expands (meluas)
  • Menitikberatkan pada complexity
  • Mencapai keutuhan cerita secara inklusi

Menurut catatan Koorie Layun Rampan, sampai tahun 1996, hanya ada 45 orang novelis perempuan dari 5.506 pengarang. Hal ini tentu saja berhubungan dengan latar belakang sosiohistoris masyarakat Indonesia yang berkultur patriarki. Karena kegiatan tulis menulis berhubungan erat dengan kecendikiaan yang harus dicapai melalui pendidikan.
Marco Kartodikromo telah menerbitkan Student Hijo, sebuah novel bertema perjuangan kaum pribumi untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan kaum colonial. Novel ini dapat dikatakan sebagai pelopor novel Indonesia yang lahir bersamaan dengan tumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia. Ideologi nasionalisme yang antikolonialisme dalam novel Student HIjo menyebabkan novel ini dianggap bacaan liar yang bertendensi politik oleh colonial Belanda. Untuk membendung perkembangan karya-karya sastra seperti Student Hijo yang dianggap membahayakan stabilitas pemerintahan colonial, maka dibentuk dan didirikan Komisi Bacaan Rakyat dan Balai Pustaka.
Walaupun diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka, novel-novel karya pengarang pribumi seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Salah Pilih, Kalau TAk Untung,dan Kehilangan Mestika memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi emansipasi masyarakat pada zamannya. Bahkan dari beberapa novel tersebut, Salah Asuhan menunjukkan adanya ideologi nasionalisme yang dikemas secara simbolis.
Terdapat beberapa penulis perempuan ditengah dominasi penulis laki-laki pada masa colonial Belanda, seperti: Arti Parbani (Widyawati, 1948), S,Rubiah (Kejatuhan dan Hati, 1950), Zubaedah Subro (Pujani. 1951), Nursiah Dahlan (Arni, 1952), dan Johanisun Iljas (Angigio Murni, 1956). Namun, kebanyakan dari mereka tidak melanjutkan karirnya, Pada awal 1965 muncul novelis yang sangat produktif, yaitu Nh.Dini. Hampir semua karyanya bertema kemandirian perempuan yang menglirkan semangat feminisme. Selanjutnya muncul Marianne Katoppo pada akhir tahun 1970-an dengan beberapa karyanya. Beliau dipilih menjadi pemenang SEA Writer Award 1982, sebagai wanita pertama yang meraih hadiah tersebut. Novelis berikutnya adalah Mustika Heliati (1951) dengan karya-karyanya yang bertema misteri.
Berikut pengarang-pengarang perempuan yang berkarya pada tahun 1960 sampai 1970-an, namun tidak produktif beserta karyanya:
  • Matiah Madjiah dengan karyanya Kasih di Medan Perang
  • Enny Sumargo dengan karyanya Sekeping Hati Perempuan
  • Luwarsih Pringgoadisurjo dengan karyanya Menyongsong Badai
  • Totilawati Tjitrawasita dengan karyanya Hadiah Ulang Tahun
  • Suwarsih Djojopuspito dengan karyanya Manusia Bebas

Berikut novelis perempuan yang produktif beserta karyanya:
  • Lilimunir C dengan karyanya Anak Rantau
  • Titis Basino dengan karyanya Di Bumi Aku Bersua, Di Langit Aku bertemu
  • Ayu Utami (Tokoh pembaharu dalam penulisan novel Indonesia mutakhir) dengan karyanya Saman
  • Dee (Dewi Lestari) dengan karyanya Supernova I: Ksatria Putrid dan Bintang
  • Nova Riyanti Yusuf dengan karyanya Mahadewa Mahadewi
  • Djenar Maesa Ayu dengan karyanya Nayla
  • Eliza V. Handayani dengan karyanya Area X: Himne Angkasa Raya (Science Fiction)
  • Herlinatiens dengan karyanya Garis Tepi Seorang Lesbian
  • Abidah El Khalieqy dengan karyanya Perempuan Berkalung Sorban
  • Ratih Kumala dengan karyanya Tabularasa
  • Dewi Sartika dengan karyanya Dadaisme
  • Oka Rusmini dengan karyanya Tarian Bumi
  • Fira Basuki dengan karyanya Jendela-jendela, Atap, Pintu (Trilogi)
  • Naning Pranoto dengan karyanya Wajah Sebuah Vagina
  • Ani Sekarningsih dengan karyanya Namaku Teweraut

Selain novelis, beberapa dari mereka juga menulis cerpen, seperti Sa’adah Alim, Nh.Dini, dan Soewarsih Djojopuspito.
Walaupun keberadaan perempuan dalam penulisan fiksi Indonesia cukup intens, namun kreativitas para pengarang laki-laki cenderung lebih banyak mendapatkan perhatian daripada pengarang perempuan. Menurut Wahyudi, para pengarang perempuan cenderung dianggap hanya mampu menghasilkan karya-karya popular yang berbicara mengenai lingkup domestic dan tidak lebih sekedar menawarkan “pelarian” atau mimpi-mimpi sejenak dari rutinitas keseharian yang menghasilkan sejumlah fiksi.
Beberapa isu gender yang diangkat dalam sebuah karya:
a. Novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli mengkritik tradisi yang memingit perempuan yang sudah berusia 7 atau 8 tahun, yang banyak diberlakukan dalam masyarakat tradisional.
b. Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis mengkritisi patriarki dan kekerasan terhadap perempuan dalam gagasan, belum dalam perbuatan.
c. Novel Kalau Tak Untung karya Selasih menampilkan isu gender yang berhubungan dengan pentingnya pendidikan dan masuknya perempuan di sektor publik.
d. Novel Kehilangan Mestika karya Hamidah mengemukakan pentingnya pendidikan dan pekerjaan formal di sektor publik.
e. Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana menyuarakan semangat emansipasi perempuan.
f. Novel Manusia Bebas karya Soewarsih Djojopuspito menggambarkan sosok seorang guru perempuan yang menjadi pejuang emansipasi perempuan.
g. Novel Pada Sebuah Kapal karya Nh.Dini mengangkat tentang relasi gender dalam konteks perkawinan antarbangsa, khususnya antara perempuan Indonesia dengan laki-laki Perancis.
h. Novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer mengangkat praktik perbudakan perempuan pada masa kolonial Belanda dalam bentuk “Nyai”.
i. Novel Gadis Pantai karya Pramudya Ananta Toer menggambarkan perempuan kelas bawah dari keluarga nelayan miskin ditindas sebagai gundik oleh seorang laki-laki bangsawan pribumi.
j. Novel Burung-burung Manyar karya Y.B Mangunwibawamengungkapkan bahwa perempuan yang hidup dalam kultur patriarki pada era prakemerdekaan dan revolusi, telah memperoleh pendidikan dan memiliki peran penting dalam sector publik.
k. Novel Saman dan Larung karya Ayu Utami menggambarkan tokoh perempuan yang merupakan representasi dari sosok perempuan yang menunjukkan gejala pengingkaran terhadap kultur patriarki dalam masyarakat Indonesia.
l. Novel Perempuan Berkalung Sorban dan Geni Jora karya Abidah El-Khalieqy menggambarkan ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks masyarakat pesantren.
m. Novel Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma mengkritisi dominasi patriarki dalam relasi suami-istri dan ayah-anak perempuan.
n. Novel Putri karya Putu Wijaya mengangkat isu gender yang berhubungan dengan peran perempuan sebagai agen penting perubahan sosial masyarakat Bali yang memegang teguh adat dan tradisi.
Berikut beberapa cerpen yang memuat isu gender:
a. Cerpen Monumen karya Nh.Dini mendukung kaum masuknya kaum perempuan dalam berbagai sektor publik.
b. Cerpen Kecubung Pengasihan dan Rintrik karya Danarto menggambarkan perempuan dalam pengembaraan spiritualnya, dalam upaya memahami dan menyatu dengan Tuhan.
c. Cerpen Gadis-gadis Pekerja karya Sirikit Syah menggambarkan kesuksesan dan perjuangan perempuan.
d. Cerpen Jaring-jaring Merah karya Helvy Tiana Rosa menggambarkan perempuan sebagai korban Daerah Operasi Militer di Aceh.
e. Cerpen Lintah, Melukis Jendela, dan Namanya… karya Djenar Maesa Ayu menggambarkan penderitaan anak perempuan akibat ulah orang tuanya.
f. Cerpen Tragedi Asih Istrinya Sukab karya Seno Gumira Ajidarma menggambarkan perempuan sebagai korban.
g. Cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma menceritakan marginalisasi perempuan, khususnya kekerasan terhadap anak perempuan.

B. Perkembangan Drama/Teater Indonesia dan Isu Kesetaraan Gender
A. Pengertian Drama/Teater dan Sejarah Perkembangannya
Drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang artinya berbuat, bertindak, sedangkan teater berasal dari kata theatron yang artinya tempat pertunjukkan. Dalam drama terdapat teks samping (neben text) dan dialog (haup text) karena memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Waluyo (2002: 75-80) membuat perkembangan teatre Indonesia menggunakan kelompok teater, yaitu (1) Abdul Muluk, (2) Komedi Stambul, (3) Dardanella, (4) Maya, (5) Cine Drama Institut, (6) Zaman Kemajuan Dunia Teater yang terdiri atas: (1) Bengkel Teater Rendra, (2) Teater Populer, (3) Teater Kecil, (4) Teater Koma, (5) Teater Mandiri, (6) Bengkel Muda Surabaya, (7) kelompok teater lainnya dan dua sekolah tinggi drama (ASDRAFI dan ATNI).
Menurut Sumardjo (1992:102), sejarah sastra modern Indonesia terbagi dalam empat periode, yaitu:
a. Masa Perintisan Teater Modern. Adappun ciri-cirinya sebagai berikut:
1.      Pertunjukkan dilakukan di tempat khusus,
2.      Penonton harus membayar,
3.      Fungsinya unutk hiburan,
4.      Unsur ceritanya berkaitan dengan peristiwa sezaman,
5.      Ungkapan bentuk teater sudah memakai idiom-idiom modern,
6.      Memakai bahasa Melayu pasaran,
7.      Adanya pegangan cerita tertulis.
Masa perintisan teater modern terbagi dalam tiga masa:
1. Masa Teater Bangsawan→ Tahun 1885, Mamak Pushi membentuk rombongan bernama Pushi Indera Bangsawan of Penang yang pentas di rumah-rumah bangsawan yang punya kenduri.
2. Masa Komedi Stamboel→ Komedi Stamboel didirikan sekitar tahun 1891 oleh August Mahieu (keturunan Indo-Perancis).
3. Masa Teater Opera→ Sekitar tahun 1908 muncul Opera Derma yang pentas untuk kegiatan amal, sehingga para pemainnya kebanyakan para amatur, bukan professional.
b. Masa Kebangkitan Teater Modern. Masa ini terbagi dalam tiga golongan, yaitu:
1. Masa Miss Riboets’s Orion. Orion didirikan tahun 1925 oleh T.D. Tio Jr (Tio Tik Djien). Nama Miss Riboet’s Orion sendiri merupakan gabungan nama dari kelompok ini dan bintang primadonya, yakni Miss Riboet.
2. Masa The Malay Opera “Dardanella”. Didirikan pada 21 Juni 1962 ole A.Piedro di Sidoarjo.  Kelompok ini terobsesi menyaingi kepopuleran Orion hingga membawanya ke luar negeri.
3. Awal Teater Modern. Mulai berkembang sejak akhir abad XIX hingga sebelum masa pendudukan Jepang. Pada masa ini banyak muncul kelompok teater amatir yang tidak hanya sekedar mencari penghasilan dari pementasannya.
c. Masa Perkembangan Teater Modern. Masa ini terbagi dalam tiga waktu, yakni:
1. Teater Zaman Jepang→ ditandai dengan adanya campur tangan Jepang terhadap bidang kesenian termasuk dalam perteateran.
2. Teater Indonesia tahun 1950-an→ pada masa ini muncul zaman emas teater yang pertama. Usmar Ismail dan Dr. Abu Hanifah membentuk kelompok teater Maya (avant-garde theatre Indonesia). Usmar Ismail juga mendirikan ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia).
3. Teater Indonesia tahun 1960-an→ muncul ASDRAFI di Yogyakarta dan banyak kelompok teater lainnya di berbagai daerah. Masa inni mendapat terror Lekra.
d. Teater Indonesia Mutakhir
Dimulai sejak tahun 1965, ditandai dengan Dewan Kesenian Jakarta. Masa ini banyak menampilkan lakon-lakon produksi mereka sendiri, lakon-lakon tradisional yang dikemas secara baru, naskah-naskah asli Indonesia maupun naskah-naskah asing.
e. Teater Indonesia pada Akhir Abad XX
Dari 34 data yang terkumpul, terdapat 17 naskah terjemahan (saduran atau adaptasi), 13 naskah Indonesia, dan 4 data tentang kegiatan teater.
B. Penulis dan Pelaku Drama Perempuan (Aktris)
Dalam perkembangan teater yang lebih awal, nama-nama perempuan tidak muncul. Keberadaanya seolah tenggelam di balik ketokohn sang pemimpin kelompok teater yang menjadi “ngabehi” atau menonjol dalam segala aspek. Dengan kata lain, sebenarnya da sejumlah tokoh perempuan yang turut meramaikan dunia perteateran Indonesia. Biasanya tokoh-tokoh perempuan ini menjadi primadona panggung, sehingga sering kali nama kelompok teaternya menyatu dengan nama sang bintang seperti Miss Riboets Orion atau Miss Tjitjih. Berikut merupakan para perempuan yang “ditiadakan” karena posisi mereka sebagai istri pra pemimpin kelompok teater:
1. Dewi Dja. Perempuan kelahiran Yogya yang kemudian menjadi ikon kelompok Teater Dardanella pmpinan A.Pedro seakan teggelam di bawah nayang-bayang suaminya.
2. Miss Tjijih. Seorang bintang panggung dari sebuah kelompok teater pada tahun 1920-an yang popular sebelum masa kemerdekaan. Namanya dijadikan sebagai nama kelompok teater yang didirikan oleh Abu Bakar Bafaqih. Peranan Tjijih seperti umumnya kelompok teater yang dipimpin oleh seorang lelaki, berada di bawah nama Abu Bakar Bafaqih.
3. Fifi Young. Nama Fifi Young atau Tan Kiem Nio selain dikenal dalam dunia teater Indonesia juga dikenal dalam dunia perfilman. Dia segenerasi dengan Dewi Dja dan Miss Tjijih. Istri Nyoo Cheong Seng ini pernah tergabung dalam kelompok Miss Robeot’s Orion dan kemudian bergabung dengan Dardanella.
4. Ratna Riantiarno. Ratna Riantiarno atau Ratna Madjid termasuk tokoh teater yang lebih kemudian. Kiprahnya dalam teater jauh setelah Miss Robeot, Dewi Dja, Miss Tjijih, ataupun Fifi Young. Namanya berada pada baying-bayang suaminya, Nano Riantiarno.
5. Reni Djayusman. Ia lebih dikenal sebagai penyanyi dengan dandanan yang cukup heboh. Ketika ia menjadi istri Putu Wijaya, ia turut dalam kelompok Teater Mandiri yang didirikan dan diketuai oleh Putu Wijaya sediri. Ia sempat menjadi pemimpin kelompok teater, yaitu Teater Yuka.
6. Ratna Sarumpaet. Merupakan pemimpin kelompok Teater Satu Merah Panggung. Naskah-naskah yag dipilihnya sering bersinggungan dengan hal-hal sensitif dalam kehidupan politik Indonesia, seperti:  monolog Marsinah Menggugat, Luka Serambi Mekah, dan anak-anak Kegelapan.
7. Kelompok Teater Para Pelacur Surabaya. Ada fenomena menarik dalam sejarah perteateran di Indonesia, khususnya dari sudut pandang feminisme. Kelompok Teater Budaya dari Surabaya adalah kelompok teater ang dimaksud. Anggota kelompok ini terdiri atas para pelacur dari kompleks Bangunsari dan Tambak Sari. Kelompok teater ini mementaskan sejumlah pementasan tentang kehidupan keseharian mereka sebagai PSK.
C. Pementasan Teater Terkait Tema Perempuan
Dalam dunia perteateran sering mengangkat tema-tema tertentu, khususnya terkait tema feminisme. Sejumlah hal yang dimaksud yaitu tiga pementasan yang berbeda tetapi ketiganya terjalin atas kesamaan tema terkaid dengan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan.

Ketiga pementasan yang dimaksud, yaitu:
1. Vagina Monologues karya Eve Ensler asal Amerika. Drama yang ditulis tahun 1996 ini pernah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki pada awal Maret 2002. Meski dalam penyajiannya menggunakan kalimat-kalimat yang mengundang tawa, namun sesungguhnya drama ini adalah sebuah gugatan lantang atas kekerasan terhadap perempuan. Hingga mendatangkan Obie Award bagi Ensler dan belakangan menjadi pementasan rutin di Off Broadway.
2. Perempuan di Titik Nol karya Nawal Saadawi asal Mesir. Drama ini pernah dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta pada April 2002. Mengisahkan pelacur yang memiliki prinsip. Suasana yang tertangkap adalah elegi seorang perempuan malang, bukannya pergulatan perempuan yang memiliki tubuhnya sendiri. Cerita ini diangkat dari kisah nyata seorang pelacur yang diwawancarai Sawal Saadawi.
3. Nyai Ontosoroh, transformasi dari bagian novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Drama ini pernah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki pada Agustus 2007. Ini sebuah pementasan yang ingin menonjolkan sosok tegar penuh martabat Nyai Ontosoroh, seorang gundik pribumi dalam tritalogi Pulau Buru Pram.
4. Isu Gender dalam Sejarah Drama Indonesia
Perempuan sebagai tema sentral drama Indonesia bukanlah hal yang baru. Bahkan sebelum masuknya pengaruh modernism, termasuk dalam drama, teater-teater tradisional banyak menampilkan sosok perempuan atau hal-hal yang terkait dengan perempuan. Cerita Panji yang popular dalam cerita Jawa Pertengahan melibatkan tokoh perempuan seperti Candra Kirana yang dalam petualangannya berusaha mencari pasangannya, Panji Asmoro Bangun. Cerita Ande-ande Lumut dan cerita sejenisnya juga menampilkan sosok-sosok perempuan dalam “memperebutkan laki-laki”. Judul-judul drama lain yang bercerita tentang perempuan masih sangat banyak, seperti: Ken Arok dan Ken Dedes,Sangkuriang Dayang Sumbi, Dewi Masyitoh, Nyonya dan Nyonya, Romeo dan Juliet, Nona Maryam, dan masih banyak lagi drama-drama yang mengangkat kisah perempuan.
C. Perkembangan Puisi Indonesia dan Isu Kesetaraan Gender
Menurut Shanon Ahmad (Pradopo, 2005:7), puisi merupakan emosi, imajinasi, pemikiran ide, nada, irama, kesan pancaindra, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur. Dalam perkembangannya, puisi semakin sulit dijelaskan hanya dengan satu sudut pandang tertentu. Berikut ini merupakan adanya berbagai ragam puisi:
a. Puisi Bebas adalah puisi yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah puisi. Sering disebut puisi konkret,
b. Puisi Dramatik yakni puisi dengan unsur-unsur drama yang menonjol,
c. Puisi Nonens adalah puisi jenaka yang tidak berarti apa-apa, atau tidak masuk akal yang dikemas dalam bahasa yang serius dan formal,
d. Puisi Pengakuan adalah puisi yang berisi gagasan, pikiran, dan pengakuan penyair tentang segala pengalamanya,
e. Puisi Ratapan adalah puisi yang berisi keluh kesah, rindu-dendam, atau rasa duka karena ditinggal pergi,
f. Puisi Visual adalah perkembangan lebih lanjut atas puisi konkret, semula hanya permainan huruf belaka, tetapi juga foto dan benda lain.
Puisi modern Indonesia, dibatasi pada puisi asli berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia yang beraksara latin. Sajak “Tanah Air” karya M Yamin (1920) merupakan tonggak lahirnya puisi Indonesia modern. Puisi Indonesia modern berkembnag di tahun 1921-an, dengan beberapa nama penyair yang mengemuka pada saat itu, antara lain M Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Efendi.
Berikut beberapa penyair Indonesia dengan gaya kepenulisannya:
No
Penyair
Gaya Kepenulisan
1.
Rustam Efendi
Lebih berani dalam melakukan eksperimen estetik
2.
Sanusi Pane
Menulis puisi-puisi yang bertema percintaan dan nasionalis
3.
Amir Hamzah
Banyak menggunakan kata-kata lama dari bahasa Melayu, Kawi, atau bahasa daerah Jawa, Sunda, Melayu
4.
JE Tatengkeng
Masih terpengaruhi puisi lama, yakni terikat oleh rima akhir dengan bait-bait bersajak
5.
Chairil Anwar
Menggunakan bahasa sehari-hari yang terkadang spontan dan lugas apa adanya.
6.
Toto Sudarto
Menunjukkan warna yang beragam dan menampilkan beberapa peristiwa yang sinkronis
7.
Ajib Rosidi
Menunjukkan kesungguhan dan banyak menggabungkan kisah dan dialog
8.
Rendra
Bahasanya indah, cenderung romantic, namun mudah dipahami. Adanya pengulangan baik bait maupun baris
9.
Taufik Ismail
Kekuatan puisi terletak pada daya visual dan puitik dalam pemilihan kata-kata
10.
Emha Ainun Najib
Puisi-puisinya banyak bernafaskan Islam
11.
Isma Sawitri
Bersifat reportase
Berikut beberapa penyair perempuan yang eksis sejak tahun 1950 hingga sekarang:
a. Periode 1950-1960-an. Penyair perempuan yang eksis pada periode ini antara lain S.Rukiah, Walujati, dan St.Nuraini. Kumpulan puisinya yang berjudul Tandus mendapat hadiah sastra nasional BMKN. Walujati dan St.Nuraini selain aktif menulis puisi, mereka juga menulis prosa.
b. Periode 1970-an. Banyak ditemui nama penyair perempuan yang karyanya ter- publikasikan di media, yang umumnya adalah majalah. Mereka adalah Iswa Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soenharjo, Toety Heraty, Rayani Sriwidodo, dan Rita Oentoro.
c. Periode 1980-an. Penyair-penyair pada periode ini sebagian besar berasal dari pulau Jawa, seperti:
¨      Endang Susanti Rusatamaji. Pendiri komunis Imperium Sastra Independen (Imsain) dan menjadi ketuanya pada tahun 1997. Gaya penulisannya ekspresif, banyak berupa renungan atau kontemplatif, serta menggunakan pilihan kata yang lekat dengan alam, seperti yang terlihat dalam puisinya yang berjudul “Ziarah Arus Sejarah”.
¨      Abidah el Khaliqy. Ia disebut sebagai penyair perempuan yang mewakili dunia pesantren. Tulisannya banyak mengupas persoalan kehidupan termasuk persoalan perempuan dengan memadukan cita rasa religius, seperti yang terlihat dalam “Prasasti Perkawinan”.
¨      Medy Loekito. Memiliki kesamaan ciri dengan puisi pendek Jepang atau yang biasa disebut haiku. Puisi-puisinya banyak menggunakan diksi yang lekat dengan alam, seperti dalam “Sketsa Malam”.
¨      Dorothea Rosa Herliany. Beberapa kumpulan puisinya diterjemahkan ke beberapa bahasa, yakni Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Jepang, Korea, dan Vietnam. Ia juga meraih beberapa penghargaan, di antaranya dari Pusat Bahasa (2003) dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI (2004). Salah satu puisinya adalah “Telegram Gelap Pesetubuhan”.
¨      Oka Rusmini. Mendapatkan penghargaan puisi terbaik Jurnal Puisi. Salah satu antologinya adalah “Monolog Cerpen”.
Pada akhir periode 1980-an, dunia puisi di Indonesia diramaikan dengan peluncuran Tonggak, antologi puisi Indonesia modern yang disunting oleh Linus Suryadi AG. Keistimewaan Tonggak, yakni (1) tidak menonjolkan salah satu penyair, (2) tidak membatasi diri pada periode tertentu, batas geograis tertentu, tema tertentu, maupun peristiwa tertentu, (3) disusun berdasarkan kelahiran para penyair.
d. Periode 1990 hingga 2000-an.
Penyair perempuan pada periode ini meningkat oleh beberapa faktor. Pertama, peningkatan jumlah media publikasi. Kedua, meningkatnya jumlah penggemar sastra, yang antara lain terwujud dengan menjamurnya sejumlah komunitas penggiat sastra di berbagai daerah. Ketiga, kesadaran dari kaum perempuan untuk mengekspresikan dan mengeksistensikan dirinya dengan berkarya. Dunia kepenulisan tidak lagi dipandang sebagai dunia dunia yang terdominasi kaum pria atau sekadar eskapisme, tetapi justru sebagai bentuk perjuangan dan kesadaran bagi perempuan.penyair-penyair perempuan yang muncul pada periode ini:
a. Evi Idawati adalah penyair, cerpenis, artis sinetron, dan pemain teater. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan. Antologi puisinya yang diterbitkan Pengantin Sepi (2002) dan Namaku Sunyi (2005).
b. Dina Oktaviani lahir di Bandar Lampung, 11 Oktober 1985. Sajak-sajaknya pernah dimuat Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Lampung Post, Sumatra Post, dan BlockNot Poetry Jogjakarta. Bukunya yang telah terbit adalah Biografi Kehilangan (2006). Berikut para penyair yang berproses kreatif dilingkungan perguruan tinggi:
NO
Penyair
Universitas
Karya
1.
Fitri Yani
FKIP Universitas Lampung
Perjalanan Embun
2.
Komang Ira Puspaningsih
Universitas Negeri Yogyakarta
Di Stasiun
3.
Inggit Putria Marga
Universitas Lampung
Maghrib di Jalan Pualng
4.
Nana Riskhi Susanti
UNNES Semarang
Perempuan Kedua
5.
Nersalya Renata
Teater Satu Bandar Lampung
Rumah



Copyright 2009 Pokem's Blog. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates