A Little Thing Called Love


Film : A Little Thing Called Love
Kru
Sutradara: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn and Wasin Pokpong
Penulis: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn and Wasin Pokpong
Produser: Somsak Tejcharattanaprasert and Panya Nirankol
Sinematografi: Reungwit Ramasudh
Pemeran Utama
Mario Maurer sebagai Khun Shone

Pemeran pembantu

Sudarat Budtporm sebagai Guru Inn
Tangi namonto sebagai Guru Phol
Pijitra Siriwerapan sebagai Guru Orn
Acharanat Ariyaritwikol sebagai Top
Kachamat Pormsaka Na-Sakonnakorn sebagai Pin
Yanika Thongprayoon sebagai Faye
Sinopsis
A Little Thing Called Love
Khun Nam pada tahun pertamanya di M.1 (1 SMP) jatuh cinta pada seniornya di M.4 (1 SMA), Khun Shone. Shone adalah pecinta hewan dan orang yang sangat peduli.  Dengan segala cara Nam melakukan sesuatu agar bisa melihat dan berbicara dengan Shone. Nam dibantu teman akrab akrabnya, Cheer, Gei, dan Nim. Mereka mencoba mempraktekkan buku “9 resep Cinta.
Setiap Nam ingin mendekati Shone, selalu ada Faye yang menghalanginya, seperti saat Nam ingin pulang bersama Shone, Faye berpura-pura kakinya terkilir agar pulang bersama Shone. Cheer. Gei, dan Nim mencoba segala cara untuk membuat Nam cantik. Saat pemilihan ekstrakulikuler, Nam dan teman-temannya memilih tari, tapi mereka tidak diterima karena ulah Faye. Akhirnya mereka ikut drama sekolah dan Nam mendapat peran Putri Salju. Dengan kemampuan Pin, seorang kakak kelas seni rupa, Pin mulai terlihat cantik.
Semakin hari Nam semakin cantik, banyak yang suka kepadanya, termasuk Top teman Shone yang baru saja pindah ke sekolah itu. Top menyatakan cintanya pada Nam. Meski Nam tidak menjawab pernyataan cinta Top, tapi Top menganggapnya telah menerima dia sebagai seorang kekasih. Mulai saat itu, Shone, Top, dan Nam sering pergi bersama. Hingga pada saat ulang tahun Cheer, Nam tidak bisa datang merayakannya. Itu semua membuat Nam jauh dari sahabat-sahabatnya.
Suatu ketika, saat Shone mengadakan acara api unggun bersama teman-temannya, Top mencium pipi Nam. Itu membuat Nam marah dan mengatakan bahwa ia tidak mencintai Top. Top menemui Shone dan berkata pada Shone agar tidak pernah pacaran dengan Nam, karena dia tidak mau sahabat karibnya pacaran dengan perempuan yang dia cintai. Sejak kejadian itu, Nam mulai dekat kembali dengan sahabat-sahabatnya yang dulu sempat menjauh.
Ayah Shone mengatakan Shone akan sekolah ke Bangkok dalam waktu dekat. Begitupun Nam. Dia mendapat peringkat 1 dan akan pergi ke Amerika menyusul ayahnya yang telah lama tidak ia temui. Kelulusan sudah tiba, Nam menyatakan cintanya pada Shone di kolam renang. Tapi, ternyata Shone telah jadian dengan Pin. Itu membuat Nam hancur.
 Saat pulang, Shone bertemu manager Bangkok Glass di rumahnya. Manager itu menjemput Shone pergi ke Bangkok. Sebelum ia pergi meninggalkan negaranya, ia ingin memberikan album foto yang berisi foto-foto Nam sejak ia masih jelel hingga dia cantik dan disukai banyak orang. Itu semua menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Album itu Shone letakkan di depan rumah Nam dan ia pergi meninggalkan negaranya tanpa berpamitan pada Nam.
Sembilan tahun kemudian, Nam menjadi designer terkenal di New York dan ia diundang oleh salah satu talk show. Dalam talk show tersebut, Nam dipertemukan kembali dengan Shone yang telah berhasil dalam Bangkok Glass dan menjadi fotografer. Nam bertanya apakah Shone sudah menikah, Shone menjawab dia sedang menunggu seseorang yang yang datang dari USA (Nam). Merekapun akhirnya dapat bersatu.



Sinopsis novel Pulang


Pulang
(Toha Muhtar)

   Sebelum menjadi heiho Jepang, Tamin tinggal di sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Wilis. Setelah tujuh tahun pergi meninggalkan desanya, ia pulang ke tanah kelahirannya yang selama ini ia rindukan. Ketika ia memasuki rumahnya, semua keluarganya terkejut melihat dirirnya, karena mereka hampir menganggap bahwa Tamin telah gugur di medan perang. Kini, ia berkumpul lagi dengan kedua orangtuanya dan adiknya, Sumi. Banyak cerita yang terlewatkan selama 7 tahun. Pardan, sahabatnya, telah gugur saat perangan melawan Belanda, sedangkan sahabatnya, Gamik, menang dalam mengusir Belanda dari tanahnya.
Keesokan harinya, Tamin membersihkan halaman rumah dan merapikan kandang. Semua sapi yang dulu keluarganya miliki kini telah dijual untuk memenuhi kehidupan mereka. Untuk itu, Tamin berencana pergi ke kota membeli sapi untuk membajak sawahnya seperti dulu. Namun ternyata, sawahnya telah digadaikan karena mereka tidak punya pilihan lain. Dengan menjual kalung peninggalan mendiang istrinya, Tamin menebus sawah yang telah menjadi warisan dari leluhurnya. Esok harinya, Tamin menjalankan apa yang telah ia rencanakan.
Sawah yang selama ini membuat Tamin rindu, telah kembali menjadi milik keluarganya. Tamin menggarap sawahnya dengan gembira dan sungguh-sungguh.  Setiap malam, ia menyanyi tembang jawa, Asmaradana, untuk menghibur diri. Keadaan keluarga Taminpun semakin membaik sejak kepulangan Tamin. Setiap pagi, Tamin telah sibuk menggarap sawahnya dan ketika siang tiba, Sumi datang membawakan makan siang untuk Tamin. Suatu hari, Sumi datang bersama Isah yang membuat Tamin jatuh cinta. Sejak saat itu, Tamin selalu menunggu pertemuannya dengan Isah meski hanya sejenak.
Suatu hari, Tamin diajak Pak Banji menghadiri sebuah rapat untuk merundingkan perbaikan makam Gamik. Rapat berjalan dengan lancer hingga mendapat sebuah kesepakatan. Setelah rapat selesai, acara dilanjutkan dengan perbincangan ringan antarwarga. Disana Tamin diminta menceritakan pengalaman hidupnya selama tujuh tahun ia meninggalkan desa. Tamin bingung, karena ia takut menceritakan bahwa ia menjadi heiho yang berarti sebuah penghianatan. Akhirnya, Tamin mengarang cerita untuk menutupi bahwa ia ikut andil membela Belanda.
Tamin merasa bersalah dan semakin hari semakin gundah. Akhirnya, ia memutuskan pergi meninggalkan desa. Sampai di tepi Begawan, Tamin bertemu dengan penarik getek. Dia diajak ikut bersama tukang getek itu dan sampailah ia di kota. Di sana, ia bekerja di sebuah gudang.
Pada suatu hari ia bertemu dengan Pak Banji. Kebetulan Pak Banji ada keperluan di kota. Pak Banji mengajaknya pulang karena kepergiannya telah membuat keluarganya sedih. Pak Banji memberikan kabar bahwa ayah Tamin telah tiada. Selama Tamin pergi, para warga telah membantu memanen sawah Tamin. Penduduk sama sekali tidak mengambil hasil dari sawah Tamin. Hal itu membuat Tamin sadar bahwa kekhawatirannya selama ini tidak masuk akal. Tamin menyesali perbuatannya selama ini.
Akhirnya Tamin pulang kembali ke desanya. Tamin pergi ke makam ayahnya. Ia menghadap makam ayahnya dan berjanji akan merawat sawahnya, seperti amanah ayahnya dahulu. Dengan hati yang lapang, ia berjanji tidak akan lagi meninggalkan desanya.

Komentar :

            Novel ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap jujur. Karena dengan kejujuran, kita akan merasa tenang. Sebuah kebohongan akan menciptakan kebohongan-kebohongan yang lain dan akan membuat hidup kita tidak tenang, karena dihantui oleh rasa bersalah. Dari novel ini, kita bisa mengetahui kebudayaan yang ada di pedesaan. Bagaimana pola hidup mereka dan adat-adat yang ada, seperti gotong royong yang mulai luntur pada saat ini. Selain itu, novel ini juga mengandung unsur nasionalisme yang dikemas dalam perjuangan Gamik melawan Belanda.

Sinopsis novel Lembah Hijau

Lembah Hijau
(Nursjamsu)

          Diusianya yang masih 12 tahun, Ujang harus hidup sendiri. Ibu dan ayahnya telah meninggal. Ujang hanya punya pekarang, kambingnya ‘Si Putih’, dan dua ayamya ‘Si Bintik-Bintik’. Meski ia yatim piatu, ia tetap bersekolah seperti nasihat ibunya, walaupun Pak Mamat mengejeknya. Selain sekolah, ia juga merumput untuk kambingnya juga kambing Pak Wira untuk mendapatkan uang guna menyambung hidup. Tapi, ia berhenti merumput untuk kambingnya Pak Wira, karena Pak Wira tidak membayar upahnya lagi.
            Semakin hari, uang Ujang semakin habis. Lalu, ia melihat buah nangka yang ada dibelakang pondoknya yang hampir masak. Ia berfikir akan menjual buah itu ketika sudah masak. Tapi, ketika sudah matang, buah itu hilang dicuri orang. Kesedihannya belum hilang saat Pak Mamat mengajaknya bekerjasama. Pak Mamat ingin menanami tanah Ujang dengan kacang tanah dan hasilnya dibagi dua. Ujang setuju dan untuk menyambung hidupnya sebelum kacang tanah siap panen, ia menjual ayamnya Si Bintik-bintik. Selain itu, dia juga bekerja di pasar sebagai kuli angkut. Tapi, setiap penghasilannya selalu dibagi dua dengan preman pasar yang selalu mengancamnya.
            Kacang tanah sudah siap panen. Ujang sempat bertanya akan harga kacang itu kepada sang pemborong. Ia hitung-hitung uang yang akan diterimanya cukup untuk hidup dan untuk membayar sekolahnya. Tapi, ternyata Pak Mamat melakukan kecurangan dalam membagi hasilnya. Hari berikutnya, kambingnya dicuri oleh orang yang telah membeli kacang tanahnya. Ujang sangat terpukul dan kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang. Ia merasa tidak ada lagi orang yang baik di dunia ini. Akhirnya, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk mencari orang baik. Ia menumpang truk yang akan pergi ke Jakarta dengan membawa bekalnya seadanya. Sesampainya di Jakarta, ia hanya berjalan mengikuti hatinya hingga ia sampai di depan sebuah rumah. Tiba-tiba ada tukang becak yang berhenti dan minum dari guci yang ada di depan rumah itu. Melihat itu semua, Ujang menganggap bahwa pemilik rumah itu baik, ternyata setelah ia bertemu dengan pemilik rumah prasangkanya salah.
Ujang memutuskan pergi ke kali untuk mandi, tapi karena airnya keruh, ia mengurungkan niatnya. Perlahan, air matanya menetes bersama air hujan yang membasahi tubuhnya. Dari bawah jembatan, ada suara yang memanggilnya untuk berteduh. Ujang menghampiri suara itu. Ia disambut oleh seorang wanita. Ujang mulai nyaman ketika ia tidur bersama wanita itu. Ia merasa mendapat kasih sayang dari seorang ibu. Tapi, lagi-lagi kepercayaan itu hancur. Ketika ia membuka matanya, wanita itu telah hilang beserta bekalnya yang ia bawa dari kampung. Ujang pergi dan sampai di depan sebuah Rumah Yatim Piatu. Ia merasa mendapat apa ynag ia cari selama ini. Ternyata tidak.
Ia keluar dari Rumah Piatu itu dan bertemu dengan Pak Arif. Seorang guru yang tinggal bersama anaknya, Iwan. Ujang menceritakan semua kisahnya kepada Pak Arif. tentang ketidakpercayaannya lagi pada manusia. Pak Arif memberi nasihat kepada Ujang untuk tidak menghakimi orang hanya dengan satu  bukti saja dan Ujang menerima nasihat itu. Selama satu tahun Ujang bersama Pak Arif, hingga ia bertemu dengan Ibu Marni. Wanita yang telah mencuri uangnya saat di kolong jembatan. Ibu Marni memberi penjelasan atas kejadian itu dan mengembalikan semua uang Ujang yang telah berbunga menjadi banyak karena Ibu Marni sangat menyesal atas kejadian itu. Ibu Marni juga mengangkat Ujang menjadi anaknya.
Saat liburan sekolah, Ujang diajak berlibur ke pondoknya oleh Ibu Marni beserta Iwan. Saat itulah semua prasangka Ujang tentang keburukan orang-orang kampungnya hilang. Pak Mamat yang dulu mencuranginya mengaku salah dan mengembalikan uang Ujang. Begitupun Pak Pak Wira mengakui kesalahannya. Sedangkan preman pasar yang telah mengambil setengah dari hasil kerjanya, kini telah di penjara. Ternyata semua nasihat Pak Arif benar. Itulah yang dirasakan Ujang. Kini ia lebih ringan menjalani hari-harinya.

Komentar:

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini. Ujang yang tak pernah putus asa menyambung hidupnya, meski ia selalu saja ditipu oleh orang-orang sekitarnya. Pak Arif juga mengajarkan kepada kita untuk tidak menghakimi orang lain hanya dengan satu bukti saja. Dia mengajari kita untuk melihat dari sudut pandang orang yang bersalah agar kita dengan mudah dapat memaafkan kesalahan mereka. Setiap manusia mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Jadi, kita harus melihat dari kedua sisi, jangan hanya dari satu sisi agar kita dapat menjalani hidup ini dengan baik. Novel ini juga memberituhu kita bahwa setiap perbuatan kita pasti akan ada balasannya. Entah itu di dunia atau di akhirat.

Essay Pendopo Tedjakusuma


Mengintip Budaya Lewat Tedjo
Oleh : Rini Ambar P.
Layaknya pendopo pada umumnya, Pendopo Tedjakusuma menjadi tempat berkumpul, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Pendopo Tedjakusuma atau yang lebih sering disebut sebagai Pendopo Tedjo mempunyai tempat tersendiri di hati para mahasiswa.
Tempat yang teduh dan terbuka memberikan perasaan nyaman bagi para mahasiswa untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar santai melepas lelah setelah perkuliahan. Seperti tidak mengenal waktu, pendopo ini selalu ramai oleh hiruk-pikuk para mahasiswa.
Pada pagi hari hingga sore menjelang, tempat ini lebih banyak dijadikan tempat nongkrong. Pada malam harinya, tempat ini sering dipakai untuk acara-acara yang diadakan mahasiswa FBS. Acara yang diadakan sangat bermanfaat dan sebagian besar menyangkut kebudayaan, mengingat pendopo ini berada di fakultas yang kental akan kebudayaan.
Jika kita mau ikut dalam kegiatan-kegiatan yang ada, banyak ilmu dan pengetahuan yang akan kita dapat tentang kebudayaan yang sangat beragam. Dengan demikian, kebudayaan yang bangsa kita miliki dapat kita pelajari dan lestarikan sebagai aset Negara Indonesia.
Pendopo Tedjo sering dipakai anak seni tari untuk pemberian materi dan berlatih gerakan-gerakan tari. Ini menunjukkan bahwa pendopo Tedjo bukan semata-mata untuk berkumpul, tapi juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengetahui kesenian yang ada di Nusantara maupun yang ada di luar negeri, khususnya dalam bidang seni tari.
Salah seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia mengatakan, “Dengan adanya Pendopo Tedjo, saya bisa tahu banyak tari-tarian yang ada, soalnya di daerah saya jarang ada pertunjukan kesenian, khususnya tari”. Pernyataan ini semakin memperkuat bahwa kita bisa belajar kebudayaan dari Pendopo.
Jika dilihat dari sudut pandang anak seni tari, Pendopo Tedjo bukan hanya sebagai tempat berlatih, tapi juga untuk menguji mental mereka. Banyaknya mahasiswa yang singgah di pendopo ini memberikan aura tersendiri bagi mereka. Pada dasarnya, seorang penari harus berani tampil di depan umum. Dengan mereka berlatih di pendopo, mereka bias melatih mental mereka agar untuk terbiasa tampil dihadapan umum.
Banyaknya mahasiswa yang berkumpul di tempat ini, memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar kebudayaan lain mengingat mahasiswa yang ada di UNY tidak hanya berasal dari Kota Yogyakarta atau hanya dari Pulau Jawa saja, tapi dari berbagai tempat di Indonesia maupun luar negeri.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari Pendopo Tedjo. Dilihat dari segi arsitekturnya yang terbuka, ini menggambarkan sifat keterbukaan. Seperti yang dikatakan seorang budayawan, Sutanto Mendut yang merupakan Presiden Seniman Lima Gunung, menyatakan bahwa zaman dahulu filosofi Pendopo itu menunjukkan adanya keterbukaan, pertemuan dan wadah komunikasi bagi sang pemimpin untuk rakyat.
Dari sana, dapat kita lihat bahwa budaya zaman dahulu sangat kental dengan rasa kekeluargaan dan kerukunan. Sifat-sifat inilah yang telah luntur dari bangsa kita, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh globalisasi.
Di era sekarang ini yang sangat memudahkan berkomunikasi, menjadikan kita malas untuk berinteraksi secara langsung. Oleh karena itu, kita harus mengapresiasi keberadaan Pendopo Tedjo ini, karena disini kita dapat merasakan kebersamaan dan menemukan rasa kekeluargaan antarmahasiswa yang saat ini sangat sulit didapatkan.




Guyang Jaran
di Desa Karangrejo

Guyang Jaran merupakan upacara adat yang ada di Desa Karangrejo Kabupaten Purworejo. Guyang = Memandikan, sedangkan Jaran = Kuda. Dilihat dari namanya, guyang jaran dapat diartikan memandikan kuda. Yang dimaksud kuda disini adalah kuda kepang yang dipakai dalam pertunjukan kuda lumping. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Grup Kesenian Kuda Lumping “Turonggo Seto” bersama warga desa secara rutin setiap tahun sekali pada bulan Sura (bulan pertama pada kalender Jawa. Tidak ada tanggal yang pasti, karena biasanya para sesepuh desa mendapatkan wisik / pesan gaib dari para leluhur kapan pelaksanaan kegiatan ini harus dilaksanakan.
Upacara adat ini termasuk unsur kesenian dalam kebudayaan, karena didalamnya terdapat unsur-unsur kesenian, yaitu: seni tari dan seni musik. Pada akhir acara guyang jaran ini diadakan pentas kuda lumping. Pentas kuda lumping merupakan gabungan dari seni tari dan seni musik. Seni musik di dalam kuda lumping ini menggunakan gamelan-gamelan, bukan alat musik modern yang bnayak dipakai saat ini.
Upacara Guyang Jaran ini mempunyai arti, sebagai berikut:
Ø  Pertama, sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kelangsungan dan keselamatan kesenian kuda lumping dan kehidupan masyarakat yang harmonis selama ini. 
Ø  Kedua, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar grup kesenian dan masyarakat desa selalu mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, kedamaian dan ketentraman, dan juga agar desa Karangrejo dapat menjadi desa yang gemah ripah loh jinawi. 
Ø  Ketiga, untuk membersihkan kelompok kesenian ini dari hal-hal yang tidak baik yang ditemui dalam setiap pementasan maupun keseharian selama satu tahun yang lalu. Semua kuda kepang dan alat yang digunakan dalam pementasan dicuci sebagai bentuk pembersihan tersebut.
Tata cara kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Ziarah ke makam para leluhur desa.
Ziarah ini dilakukan oleh para sesepuh desa yang dating ke makam desa Karangrejo yang berada di hutan rakyat dengan membawa bunga. Para sesepuh desa mengadakan ziarah dan doa bersama di makam para leluhur.  Makam leluhur yang dituju adalah makam Pangeran Dipokusumo/Imam Muhammad dan makam para nayaka praja (pejabat) Nagari Purworejo (sebutan dalam bahasa Jawa terhadap Kabupaten Purworejo pada jaman Hindia Belanda) yang dikebumikan di desa ini.
2.  Guyang Jaran
Pada prosesi ini, kuda kepang dikeluarkan dari ‘Kandang Jaran’. Kandang Jaran disini bukan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan istilah lain dari rumah warga yang dijadikan tempat penyimpanan kuda kepang. Dari kandang jaran tersebut kuda kepang diarak dengan diiringi tetabuhan menuju ke pinggir sungai yang mengalir di desa Karangrejo yaitu sungai Bogowonto dan sungai Gading. Pada pertemuan antara 2 (dua) aliran sungai inilah Guyang Jaran akan dilaksanakan.
Penari dalam prosesi ini merupakan penari yang telah berusia lanjut/tua, karena yang ditampilkan dalam prosesi ini adalah tari tradisi/kuno. Menurut kepercayaan setempat, pementasan kuda kepang harus didahului dengan Tari Tradisi, setelah itu baru boleh menampilkan Tari Kreasi, yaitu tari yang telah mendapat sentuhan gerak modern.
3.  Wilujèngan
Wilujèngan (selamatan) merupakan kegiatan kenduri yang menghadirkan seluruh anggota kelompok kuda lumping dan masyarakat. Dilaksanakan pada malam hari setelah kegiatan Guyang Jaran. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan di Balai Desa Karangrejo dengan sajian makanan khas desa. Makan bersama ini menggunakan pincuk /daun pisang yang dibentuk menyerupai piring yang digunakan sebagai piring.
4.  Pentas
Pentas ini merupakan pergelaran oleh seluruh pemain dan pengrawit yang terdiri dari 3 (tiga) generasi, yaitu: generasi anak-anak, pemuda, dan orang tua. Mereka tampil secara bergantian. Ini menunjukkan kebersamaan baik dalam grup kesenian itu sendiri maupun antar grup kesenian dan masyarakat. Karena pementasan ini ditonton atau dinikmati oleh masyarakat luas. Hal ini juga menunjukkan proses regenerasi dalam grup atau kesenian kuda lumping di desa Karangrejo dan juga merupakan bentuk nyata dari upaya para sesepuh/orang tua dalam meneruskan atau melanggengkan kesenian ini. Pentas ini dilaksanakan di tanah lapang, dengan durasi lama dan biasanya dilaksanakan pada malam hari.
            Artefak atau alat-alat yang digunakan dalam upacara ini adalah, sebagai berikut:
a.      Alat Teraga Tari
1.      Kuda kepang. Benda ini terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda dan diberi tali agar memudahkan penari dalam penggunaannya saat pentas.
2. Barongan. Barongan merupakan bagor (karung) yang diberi kepala menyerupai barong.
b.      Alat Musik
Alat musik yang digunakan dalam kuda lumping ini beraneka ragam, seperti: angklung, kempul, kendang, dan kecrik.
c.       Sesajen

Sesajen ini merupakan aneka makanan yang disediakan grup kesenian sebagai sajian untuk roh-roh para leluhur yang masuk ke dalam raga atau tubuh penari. Sesajen ini biasanya berupa makanan dan minuman. Ingkung (daging ayam yang masih utuh) merupakan makanan yang wajib ada dalam sesajen. Selain itu juga da kemenyan yang dibakar untuk memanggil roh-roh para leluhur.

Desa Wisata 'Desa Karangrejo'



Desa yang beralamat di Kota Purworejo ini terdapat banyak potensi alam yang dapat digali. tidak salah bila desa Karangrejo dijadikan desa wisata. di Desa Karangrejo kita dapat menikmati pemandangan yang indah seperti ada foto diatas. Selain itu, kita juga dapat belajar cara bertani dari masyarakat sekitar, mengingat pada era globalisasi ini banyak anak yang tidak tau cara bertani karena disibukkan oleh kehidupan mereka yang konsumtif. Kita lebih suka berbelanja daripada bermain dengan alam.
Ketika kita jenuh dengan segala aktiitas kita, Desa Karangrejo mampu menghilangkannya dengan pemandangan aam yang indah dan masih asri. Di desa ini terdapat berbagai permainan seperti: Flying Fox, Arung Jeram, Panjat Tebing, dan permainan Outbound lain ang tidak kalah seru. Disamping permainan-permainan, Desa Karangrejo juga mempunyai warisan budaya, yaitu Tari Dolalak 'Asri Budaya' dan 'Kuda Lumping'.
Penasaran?? Dateng aja ke Desa Karangrejoo.. nggak bakal nyesel koq ;)


Menara Eifel


Menara Eifel merupakan icon Kota Paris yang terkenal dengan tempat yang romantis :D
Kyaaaaa....!!!!! Cita-cita pengind kesana..
Copyright 2009 Pokem's Blog. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates